Survival Hard, and Struggling For Life.

Ini hanya untuk berbagi cerita saja buat temen-temen, kemaren malem saya sempat mengucurkan air mata setelah membaca beberapa kisah perjalanan hidup dari temen-temen saya di suatu forum. Mereka disana menjelaskan bagaimana cara mereka bertahan di kehidupan yang serba keras ini, kisah mereka sungguh-sungguh membuat saya tersentuh dan membuat saya merasa bersyukur untuk kehidupan yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Disana juga saya mendapatkan banyak pesan-pesan penyemangat hidup saya untuk tetap istiqomah dalam menjalani hidup yang mungkin terasa sangat berat untuk dijalani.

Baiklah, mungkin saya juga akan coba berbagi sedikit tentang kisah keluarga besar saya, yang tepatnya kisah dari Alm. Nenek Saya (dari Ibu) yang sangat saya cintai sekaligus saya ingin mengenang beliau lewat kisah ini. (we love u grand ma…)

img

Tasikmalaya, Gunung Galunggung 80′

Nenek saya lahir di tahun 1930-an (karena saya tidak tahu tepatnya), beliau lahir di ciamis di sebuah kampung dan di keluarga yang bisa dibilang pas-pasan (katanya untuk makan aja susahnya minta ampun), dan sudah pasti diketahui pada jaman itu indonesia masih di jajah oleh bangsa belanda, dan terakhir oleh jepang (masa paling menderita bagi rakyat indonesia) dimana bisa mendapatkan sesuap nasi saja sudah sangat beruntung sekali. Singkat cerita Nenek saya pun menikah, oiya beliau menikah 2 kali dan dengan yang pertama beliau memberikan satu orang anak dan kata orang tua saya, suami nenek saya yang pertama tidak lama setelah menikah lalu beliau (Kakek) meninggal.  Setalah itu nenek saya pun mengurusi anak pertamanya itu sendirian tanpa seorang suami di jaman yang begitu sulit, beliau kerjanya bertani dan itulah salah satu pokok mata pencaharian beliau karena tidak ada lagi yang beliau bisa lakukan.

Tahun demi tahun pun berlanjut dan akhirnya pada pertengahan tahun lima puluhan beliau menikah lagi dengan seorang santri di suatu daerah di tasikmalaya (dan beliau lah kakek saya). Kakek saya orangnya sederhana dan beliau sangat ta’at agama (seorang guru ngaji pula). Setalah menikah dengan suami yang keduanya beliau pindah dari ciamis (tepatnya cikoneng)  ke sebuah desa terpencil (saat itu masih banyak hutan sih..) di Tasikmalaya, beliau tinggal di rumah panggung sederhana dimana masih sangat sedikit warga di kampung tersebut. Mata pencaharian pun tidak berubah, beliau bersama kakek saya masih mengandalkan mata pencaharian bertani untuk menghidupi keluarganya.

Dari hasil pernikahannya dengan kakek saya ini beliau mempunyai 6 orang anak. 4 laki-laki dan 2 perempuan, orang tua pada saat itu memang sudah biasa untuk mempunyai anak banyak dan menikah di umur belia. kisah pun berlajunt, Anak pertama beliau dari hasil pernikahannya dengan suami pertamanya mulai sekolah dan sudah diketahui bahwa untuk sekolah pada masa sulit itu sangat susah sekali, bahkan dibilang sangat beruntung sekali seorang anak bila dapat bersekolah.

Nenek dan kakek saya waktu itu hanya mengandalkan bertani untuk menghidupi segala keperluannya dan alhasil ketika Anak pertamanya ingin melanjutkan sekolahnya ke tingkat lebih tinggi beliau mengaku tidak sanggup karena masih banyak adik-adiknya yang harus di biayai😥, Tapi Uak (Om) saya ngga patah arang, dan alhamdulillah karena dia pun tergolong anak cerdas pada saat itu ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi nya ke UGM di jurusan Fisika dan terakhir dia juga mendapat beasiswa dari Caltex untuk melanjutkan study di Australia hingga jenjang S3. Sementara anak-anak lainnya meneruskan sekolah dasar mereka dengan biaya alakadarnya dari nenek saya😥, Oya, semua anak-anak dari nenek saya alhamdulillah mengenyam pendidikan agama semua (mesantren istilahnya) dari yang paling gede sampe bungsu karena menurut kakek saya yang diceritakan ibu saya (karena saya juga sebenarnya belum pernah bertemu kakek, karena beliau meninggal sebelum saya lahir) bahwa pendidikan agama lah yang paling penting didahulukan bagi anak-anaknya karena itu merupakan pondasi bagi meraka di kehidupan kelak.

img1

Ilustrasi

Pada saat mempunyai anak ke-3, perekonomian pun sudah lumayan membaik, seiring kakek saya sering mengisi ceramah-ceramah keagamaan di desa saya (jadi seorang Ajengan) dan nenek saya jadi seorang guru ngaji dirumahnya disamping itu sambilan bertani juga,  dan alhamdulillah anak-anak beliau sekolahnya tamat semua sampai setingkat SMA, itu pun dengan jerih payah, banting tulang, kaki jadi kepala-kepala jadi kaki dari semua usaha kakek nenek saya.

Lalu langsung saja saya skip ceritanya sampai Ibu dan ayah saya menikah.. yaitu pada sekitaran tahun 86-87an.. pada saat itu beliau kakek saya masih ada untuk menghadiri dan sekaligus menjadi wali nikah ibu saya. tapi beberapa bulan kemudian setelah itu beliau terkena batu ginjal dan akhirnya meninggalkan kami semua. Innalillahi Wa Innalillah Raji’un. Kakek, meskipun saya belum pernah bertemu dengan kakek, saya merasa kakek adalah seorang yang sangat teguh akan pendiriannya dan berhasil dalam mendidik anak-anaknya sampai semuanya sukses sampai sekarang. Mudah-mudahan kakek sekarang dan selamanya bahagia di samping-Nya. Amiin.

Nenek kembali menjadi seorang single fighter, meskipun sebagian besar anaknya sudah lepas dari tanggungannya, tapi hal itu tidak masalah bagi nenek saya. Nenek saya masih setia mengajari anak-anak kampung setempat untuk belajar mengaji dan ia gunakan upah yang alakadarnya dari anak-anak tersebut untuk kehidupan sehari-harinya disamping itu juga beliau menyambi membuat tikar mendong yang mungkin ngga seberapa upahnya pada waktu itu. Beliau mengajar ngaji sampai kira-kira tahun 2004 ketika saya mulai masuk SMA, karena beliau sering sakit-sakitan.

Pada saat itu beliau masih punya tanggugan satu anak lagi yang laki-laki (bungsu), itu pun beliau sekolahkan sampai Sarjana di IAIN (Sekarang UIN Sunan Gunung Jati)  dengan jerih payah dan menjual tanah/sawah peninggalan kakek saya. Ibu saya (pangais bungsu) alhamdulillah sudah bekerja di dinas kesehatan pada waktu itu (lulus SMA langsung kerja dan diangkat jadi PNS) juga turut membantu adik saya itu secara alakadarnya,,karena Ibu saya pun melanjutkan studinya di Akper Bandung pada pertengahan tahun 90’an, dan alhamdulillah semuanya lulus dan berhasil dan diangkat jadi PNS yang mungkin penghasilannya tidak begitu besar tapi kami mensyukurinya.

Anak pertamanya yang notabene dari suami pertamanya telah menempuh pendidikan yang begitu panjang di Luar Negeri akhirnya bekerja sebagai dosen di UNRI, dan terakhir ini beliau pensiun setalah manjadi PR I (Pembantu Rektor I) di Universitas tersebut, dan yang lainnya ada yang menjadi wirausaha lalu PNS, sungguh suatu pengorbanan yang tidak sedikit dari nenek kakek saya yang telah membuat mereka anak-anaknya berhasil dalam menjalani kehidupannya. Salut.

Itu mungkin sekelumit cerita bagaimana mereka Nenek saya dan Kakek saya bertahan dan berjuang untuk bertahan hidup dan mendidik anak-anaknya sehingga berhasil dalam menggapai cita-cita para anaknya. dan Januari Tahun kemarin (2008), ketika saya sedang kuliah di Bandung, saya mendapat kabar dari Ibu saya, Nenek sedang koma di Rumah Sakit karena terjatuh pas mau ngambil wudhu, saya pun terkejut dan langsung pulang ke Tasikmalaya.😥

Saya masih ingat waktu saya diajari beliau mengaji, dari mulai mengenal huruf arab sampai bisa baca Al-Qur’an, dia sering memberikan petuah dan pesan kepada saya. Dan satu pesan yang selalu saya ingat dari nenek saya yaitu “Sing Bageur, Sing Pinter, Sok Ku Nini mah di doakeun, Ifan teh sing jadi jalmi jujur, tong ngarogahala kana papatahna ti kolot”. 😥

3 hari nenek saya tidak kunjung sadar, dan akhirnya pada tanggal 14 Januari 2008, nenek dipanggil yang Maha Kuasa dengan disaksikan dengan anak-anaknya termasuk saya, Innalillahi Wa Innallillahi Raji’un..Nenek telah pulang ke Rahmatullah,😥 itu merupakan pengalaman pertama saya kehilangan orang yang sangat saya cintai, saya tersungkur dan merenung untuk sesaat.

Dan Akhirnya nenek dikebumikan disebelah makam kakek saya yang telah lebih 20 tahun lebih awal meninggalkan nenek saya…😥 Semoga Nenek-Kakek mendapat syafa’at di kubur sana, Aminnn. Semua yang telah nenek berikan di kehidupan kami akan selalu kami kenang untuk selamanya. Semoga kita kelak bisa dipertemukan di surga-Nya Allah SWT. Amiin Ya Rabbal Alamiiiiin.

Itulah sekelumit kisah dari Nenek dan Kakek saya yang sangat kami cintai, keberhasilan itu tidak bisa didapat dengan usaha yang alakadarnya, dalam hidup itu lakukanlah hal yang terbaik maka niscaya kita akan menggapai apa yang dinamakan kesuksesan, seperti kesuksesan kakek nenek saya dalam menjalani kehidupannya beserta seluruh anak-anaknya.

image credit: http://forum.tasikmalayakota.go.id/viewtopic.php?id=811

2 pemikiran pada “Survival Hard, and Struggling For Life.

  1. Tulisan yang menarik …
    Temans, ikut lomba blog depok ya?? Setau saya salah satu syaratnya harus pasang tag “lombablogdepok 17 Juli – 17 September 2010.” Demikian .. thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s